Selasa, Mei 26, 2026
BerandaSamosirTano Ponggol Prakarsa dari Kolonial Belanda

Tano Ponggol Prakarsa dari Kolonial Belanda

*)Aliansi Masyarakat Tano Ponggol Buat Petisi Tano Ponggol

Beritaibukota.com,SAMOSIR – Tano Ponggol merupakan prakarasa dari Kolonial Belanda. Terjadinya Tano Ponggol ini dibuat, untuk mempersingkat waktu dan angkutan kapal mesin Kolonial Belanda untuk bisa melalui dan mengelilingi Danau Toba .

Hal itu dijelaskan Poltak Manik dalam diskusi dengan Komunitas Masyarakat Tano ponggol dan Tokoh sejarah dan Penulis buku jembatan Tano ponggol dan juga serta undangan di kantor Radio pusukbuhit di Lumban Butar ll Kelurahan Siogung ogung, Jumat (17/03).

Dilansir dari mediaselektif.com Poltak Manik merupakan advokat yang juga penulis buku sejarah Jembatan Tano Ponggol. Dalam diskusi tersebut secara singkat Poltak menceritakan secara singkat tentang buku yang ditulisnya sekaligus membagikan hasil tulisannya tentang sejarah jembatan Tano ponggol supaya bisa dibaca dan diketahui secara rinci.

Sementara itu Mantan Anggota DPRD Sumut 2 (Dua) Periode Efendi Naibaho ikut dalam pertemuan itu. Turut dihadiri Bupati Samosir yang diwakili Staf ahli Rudi MS Siahaan,Camat Pangururan Robintang Naibaho, Danramil Pangururan yang diwakilkan Supiono, Advokat Poltak Manik SH yang juga berprofesi sebagai penulis buku Sejarah jembatan Tano ponggol, Agnes Shinta Mauli Tamba yang juga Aktivis perempuan dan Notaris.

Adapun acara pertemuan dilaksanakan sehubungan dengan Perayaan Hari Ulang Tahun jembatan Tano Ponggol yang ke 117, dimana menurut tokoh sejarah Jembatan Tano ponggol tersebut yang dibuat 17 -20 maret 1906.

Pada saat yang sama Togarma Naibaho merupakan putra Lumban Butar II kelurahan si Ogung ogung yang sudah lama tinggal di Jakarta juga mengirimkan karya tulisnya tentang Sejarah Tano ponggol.

Togarma merupakan sarjana 1979 dari IKIP Negeri Medan ,dan S2 di IKIP Jakarta 1985 jurusan seni sastra dan seni rupa itu tidak bisa datang untuk menghadiri acara tersebut.

Setelah membaca hasil karya tulisan Togarma Naibaho, Poltak Manik mengatakan hasil tulisannya hampir sama tidak jauh beda. Dan Poltak mengatakan hasil tulisannya sudah didapat dari berbagai narasumber dan tokoh -tokoh sejarah.

Poltak juga mengatakan hasil tulisannya bukan satu titik benar atau yang jadi penentu dari sejarah jembatan Tano ponggol. “Mungkin ada ahli sejarah yang lain mengetahui hal ini demi menjaga perbedaan pendapat di publik,” ujarnya.

Dalam acara tersebut komunitas atau aliansi masyarakat Tano ponggol membuat Petisi Tano Ponggol 17 maret 2023 yaitu :

-Menyampaikan usul kepada Pemerintah Kabupaten Samosir agar “Menetapkan Tanggal Tano Ponggol 17maret 1906”

-Menyampaikan usul kepada pemerintah kabupaten samosir agar menetapkan penggalian Tano ponggol adalah bagian langsung perjuangan Raja Si Singamangaraja Xll bersama rakyat samosir menentang kolonial Belanda

-Menyampaikan usul kepada pemerintah kabupaten Samosir agar menyusun dan menetapkan Entitas Tano Ponggol sehingga Teregisterasi Resmi sebagai salah satu Terusan Terpendek Dunia.

Pada kesempatan itu Bupati Samosir yang diwakilkan Staf ahli Rudi MS Siahaan dalam sambutannya mengucapkan selamat atas terselenggaranya acara tersebut dan mengucapkan terimakasih kepada Poltak Manik yang telah meluangkan waktu untuk mencari sejarah dan narasumber untuk menulis buku jembatan Tano ponggol.

“Saya akan mendukung dan akan mengusulkan seperti seminar dan petisi tersebut dan akan disampaikan ke Bupati dan dibuat suratnya,” ujarnya.

Hal yang sama juga disampaikan Camat Pangururan, Robintang Naibaho ,saya mendukung acara yang telah diselenggarakan ini dan apa yang disepakati dari hasil acara tersebut agar bisa terus dilanjutkan tidak hanya diskusi saja.

Selanjutnya Notaris Agnes Shinta Mauli Tamba mengucapkan selamat atas terlaksananya acara itu dan mengucapkan selamat ulang Tahun Jembatan Tano Ponggol yang ke 117.

“Saya masih ingat waktu muda jembatan ini katanya masih ada kisah kisahnya dan sekarang sudah bagus dan indah. Tidak lupa juga mengucapkan terimakasih kepada Poltak Manik SH, yang telah menyisihkan waktunya untuk menulis buku Sejarah Jembatan Tano Ponggol di sela-sela kesibukannya sebagai Advokat, semoga nantinya akan muncul Poltak -Poltak yang baru, “ucapnya menutup.

Penulis : beritaibukota.com

editor : redaksi

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses