Senin, Mei 4, 2026
BerandaPariwisataMuseum Linggam Cahaya di Lingga Menjadi Salah Satu Daya Tarik Wisata Edukasi...

Museum Linggam Cahaya di Lingga Menjadi Salah Satu Daya Tarik Wisata Edukasi di Kepri

Beritaibukota.com,PARIWISATA – Berwisata tidak serta merta hanya ingin menikmati pemandangan alam pegunungan atau menikmati keindahan pantai. Berwisata sering juga digunakan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah atau mempelajari sejarah-sejarah yang terdapat dalam satu daerah.

Salah satu alternatif yang bisa lebih cepat mendapatkan informasi terkait pengetahuan atau cerita tentang suatu daerah adalah lewat Museum.

Seperti halnya yang terdapat di Kabupaten Lingga yaitu sebuah Museum Linggam Cahaya. Museum ini terletak di jalan Raja Muhammad Yusuf Kampung Damnah tanda hulu Daik Lingga.

Museum ini sudah berdiri 21 tahun yang waktu itu diresmikan Pelaksana Tugas Bupati Kepulauan Riau, Ansar Ahmad yang kini menjabat Gubernur Kepri.

Diberi nama Linggam Cahaya juga memiliki makna. Linggam artinya tanah merah sementara Cahaya adalah sinar.

Pendirian museum ini dilatarbelakangi oleh keinginan pemerintah daerah Kabupaten Lingga untuk mengamankan dan melestarikan benda-benda bersejarah yang ada di Kabupaten Lingga.

Dilansir dari laman wikipedia, awal terbentuknya museum itu bermula dari prakarsa seorang camat di Lingga yang waktu itu dijabat Ir. Muhammad Ishak.

Ishak memprakarsai pengumpulan dan pengamanan benda-benda bersejarah Lingga yang masih tersimpan di rumah-rumah warga. Setelah terkumpul semua benda bersejarah itu diamankan oleh Pemerintah Kabupatan Lingga.

Beberapa koleksi yang terkumpul waktu itu diantaranya: alat penangkap ikan tradisional, aneka perhiasan adat Melayu, Al-Qur’an tulisan tangan, corak kain dan tudung manto, aneka alat rumah tangga berbahan porselen dan aneka buli-buli.

Namun para pengunjung yang ingin melihat lebih banyak koleksi yang ada di Museum Linggam Cahaya juga masih banyak tersedia.

Seperti halnya Tempurung Pauh Tasik Pulau Janggi. Dari namanya Tempurung itu digunakan untuk mengisi air dalam pengobatan tradisional semada dahulu. Tempurung bersejarah itu ditemukan di lautan khalzum (Merah) sewaktu orang menunaikan haji menggunakan perahu. Dilansir dari laman Linggamcahaya.linggakab.go.id, Tempurung Pauh Tasik Pulau Janggi dihibahkan oleh H. Abd. Gani AR.

Selain itu juga ada Meriam Anak Lela. Meriam ini merupakan miniatur yang ada di Lingga. Menurut beberapa informan, miniatur tersebut hanya dimiliki oleh Sultan yang memerintah. Diperkirakan alat ini dibuat di Daik Lingga pada masa Pemerintahan Sultan Mahmud Syah (1832-1841) dan diproduksi di Kampung Tembaga Daik. Miniatur merian sebagian diletakkan di rumah “selir” Sultan. Selain sebagai aksesoris, meriam tersebut juga dipergunakan sebagai alat pertahanan.

Tak kalah menariknya juga di museum itu juga terdapat Peta Wilasi Singkep Tambang TN. Air Tukong. Peta ini berlokasi di Air Tukong daerah Singkep Timur. Lembar peta : XII-6, berskala 1:2.000, dibuat oleh juru gambar bernama FAUZAN-R, rk.Th. 1990. yang dipergunakan sebagai data panduan lokasi pengeboran timah di Lokasi Air Tukong Pulau Singkep bagian Timur.

Selain itu ada juga Peta Geologische Schetska Art Van Lingga. Peta Geologis ini tulisannya dalam bahasa Belanda, yakni GEOLOGISCHE SCHETSKAART VAN LINGGA, Skala 1:100.000, Trances op 50M onderlingen verticalen afsland. Tulisan yang tertera pada veta ini sudah sangat kabur sekali. Namun jika diperhatikan dengan seksama, maka masih dapat terbaca bahwa peta ini menggambarkan nama-nama tempat yang pada umumnya terdapat di Daik Lingga dan Pulau-pulau sekitarnya. Di sudut kanan atas peta ini juga tertulis OVERZICHTSKAART der MINERALVOORKOMENS in den POSEK –ARCHIPEL, Scaal 1:100.000.

Plt Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri, Raja Heri Mokhrizal mengatakakan Kepri memiliki beberapa museum di kabupaten/kota. Seperti halnya di Batam, Tanjungpinang dan salah satunya juga terdapat di Lingga.

Heri mengatakan keberadaan museum ini juga bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke salah satu daerah. “Apalagi wisatawan manca negara banyak yang juga mempelajari sejarah. Tentu dengan adanya museum menjadi daya tarik tertentu bagi wisatawan,” kata Heri.

Seperti halnya Museum Linggam Cahaya yang banyak memiliki kumpulan-kumpulan barang bersejarah mampu mendatangkan pengunjung untuk datang ke tempat itu. “Pastinya kita harus tetap melestarikan museum karna kaya dengan pengetahuan,” kata Heri.

Penulis : beritaibukota.com

editor   : redaksi

 

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses