Minggu, Juni 23, 2024
BerandaOpiniPembisik dan Pendengar

Pembisik dan Pendengar

Oleh : Abdul HamidJurnalis Senior di Kepri

“SIAPA tukang bisiknya, Mid?”
Pertanyaan itu muncul di suatu siang yang panas, pertengahan bulan lalu. Saya tak langsung menjawab, mencoba mencari jawaban yang pas soal sosok pembisik ini.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberi banyak definisi untuk kata dasar “bisik”. Namun, khusus kata “pembisik”, KBBI hanya memberikan dua makna. Pertama, orang yang membisikkan sesuatu kepada orang lain. Kedua, orang yang bertugas membisikkan apa yang harus dikatakan oleh pemain lain dalam sandiwara.

Pembisik yang dimaksud kawan itu, pastilah bukan pembisik yang ada di KBBI. Dalam realitas politik kita, “pembisik” sangatlah familiar dan berada di jantung kekuasaan. Pembisik, biasanya hadir saat seorang penguasa hendak membuat suatu kebijakan yang berdampak besar pada rakyat atau orang-orang di sekitarnya.

Jagat politik kita, pernah heboh dengan kasus pembisik saat Gus Dur berkuasa. Di era Presiden Jokowi, peran pembisik juga sering dipertanyakan ketika presiden membuat keputusan “maju-mundur”.

Dan “pembisik” yang paling terkenal, tentulah Sengkuni; penasehat Kurawa dalam wiracarita Mahabharata. Citra “Sengkuni” inilah yang membuat pembisik dikonotasikan sebagai sosok yang negatif.

Padahal, dalam peran lain, orang-orang yang sering dimintai pendapatnya oleh kepala negara, kepala daerah atau bos perusahaan, tak selalu memberi masukan yang salah. Bahkan, peran pemberi masukan atau pembisik ini banyak yang dilembagakan, diresmikan dan mendapatkan dana dari negara atau daerah.

Di sisi lain, ada juga orang-orang yang hanya dibutuhkan untuk mendengarkan keluh kesah dan masalah sang kepala. “Pendengar” ini, tak banyak “berkontribusi” dalam memecahkan masalah. Ia hanya tempat pelepas lelah, pelepas letih hati dan pikiran.

Seperti “pembisik”, KBBI hanya memberi definisi pendengar sebagai; 1 alat untuk mendengar atau mendengarkan. 2 indra untuk mendengar; telinga. 3 orang yang mendengarkan (pidato, musik, dan sebagainya). 4 pelajar (mahasiswa) yang ikut mendengarkan pelajaran (kuliah), tetapi tidak terdaftar sebagai pelajar (mahasiswa) biasa.

Saya membayangkan, negara atau institusi apapun, suatu hari membentuk sebuah lembaga resmi yang berisi orang-orang yang tugasnya hanya mendengarkan masalah dan keluh kesah bosnya. Kenapa? Agar kita mau belajar banyak mendengarkan, bukan banyak omong kosong. ***

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.