Berangkat dari kehidupan ekonomi keluarga yang makin menurun, Tumbur Hian (TH) Nababan nekat meninggalkan Jakarta menuju Provinsi Kepri. Hidup Mengandalkan Tuhan dan Bekerja Keras, pria yang sudah beranjak 42 tahun ini kini menjadi salah satu perantau sukses di Tanjungpinang dikalangan orang Batak. Bisa memiliki sebidang lahan perkebunan dan ruko, semua dimulai dari kisah sedih, berikut cerita perjalanan hidupnya :
Beritaibukota.com,TANJUNGPINANG – Siang itu seorang pria sedang duduk santai menyantap segelas kopi di sebuah kedai kopi Capella kilometer 10,Tanjungpinang. Ditemani sebungkus rokok pria bernama Tumbur Hian Nababan ini mulai bercerita bagaimana bisa terdampar di Kota Tanjungpinang.
Awal perjalananya dimulai ketika kehidupan ekonomi keluarga di Jakarta semakin merosot. Merasa sudah bisa hidup mandiri, TH Nababan akhirnya memutuskan pergi merantau ke Kota Batam bersama salah satu kawannya Rudi Sipahutar.
Mereka berangkat dari Jakarta menggunakan kapal Kelud. Namun saat itu rute yang tersedia hanya Jakarta-Tanjungpinang. Meskipun demikian mereka tetap menaiki kapal itu dengan harapan nanti dari Tanjungpinang baru akan mengambil perjalanan ke Batam. Perjalanan itu terjadi di tahun 2003.
Dalam perencanaan mereka nantinya di Batam akan menemui adek perempuan Rudi yang sudah menetap di Batam. Namun perjalanan hidup tidak selalu seperti di pikirkan. Setelah mereka sampai di Kijang, ternyata nomor telepon adek perempuan Rudi tidak aktif lagi. Sementara alamat nya di Batam juga tidak diketahui.
Meskipun demikian mereka tetap menaiki angkot dari Kijang menuju pelabuhan kapal di Tanjungpinang untuk berangkat ke Batam.
Namun namanya merantau dan belum pernah kenal tempat, mereka berdua rupanya tidak tau dimana pelabuhan di Tanjungpinang. Hingga akhirnya supir angkot yang merasa heran kenapa mereka berdua tak turun-turun menanyakan kepastian dimana mereka turun.
Mereka pun berkata mau turun di pelabuhan tapi tidak tau dimana tempatnya. Akhirnya supir itu pun menejelaskan kalau pelabuhan sudah lewat dan kenapa tidak bertanya.
Supir itu pun lanjut bertanya kemana tujuan mereka selanjutnya setelah di pelabuhan. TH Nababan pun menjelaskan tujuan mereka hendak ke Batam namun orang yang hendak dituju tidak bisa dihubungi dan tidak memiliki alamat yang jelas.
Supir itu pun bertanya dan mengajak kenalan. Ternyata supir itu juga Suku Batak bermarga Sitorus sehingga langsung terjalin rasa kekeluargaan.
*)Keluarga Pertama di Tanjungpinang
Sitorus supir angkot yang merasa iba dengan perjalanan mereka berdua langsung membawa mereka ke kedai kopi di Jalan Pemuda.
Saat tau TH Nababan dan kawannya Rudi datang dari Jakarta, Sitorus langsung merasa heran. Bagaimana tidak, waktu itu semua orang di daerah berlomba-lomba merantau ke Jakarta tetapi dua orang itu malah terbalik dan justru keluar dari Jakarta hendak mencari kehidupan. Itupun saat ini tidak ada kejelasan tujuan yang mau dituju.
Sitorus akhirnya mengajak mereka berdua untuk tinggal di rumahnya saja sembari mencari pekerjaan. Di rumah itulah TH Nababan dan Rudi Sitorus tinggal selama tiga bulan. Keluarga inilah yang menjadi keluarga pertama yang dikenal TH Nababan ketika mulai tinggal di Tanjungpinang.
Dalam kehidupan selama tiga bulan itu, mereka berdua kerja sebagai kernet di angkot yang dibawa Sitorus. Namun karena merasa tidak enak karena jatah kursi penumpang jadi berkurang akhirnya mereka berdua mencari pekerjaan lain.
Dari sinilah awal perpisahan antara TH Nababan dengan Rudi terjadi. Rudi bekerja menjadi supir truk di Kilometer VI sementara TH Nababan bekerja di pelantar dua di salah satu toko sembako. Disini TH Nababan bekerja antar barang sembako menggunakan sepeda becak.
“Prinsipnya apapun kerjaan dilakukan asal jangan mencuri,” begitulah prinsip yang tertanam di pikirannya.
Namun TH Nababan tidak lama bisa bekerja di tempat itu. TH keluar dari pekerjaan setelah dipecat pemilik toko. Hal ini berawal ketika suatu hari hujan sedang turun. TH Nababan diminta mengantar barang. Namun saat itu TH ingin menunggu hujan reda dulu baru akan mengantarnya supaya barang tidak kena hujan. Namun Toke berprinsip lain dan bertanya kenapa tidak antar barang. Toke langsung memarahinya dan memaksanya harus mengantar barang. TH pun akhirnya pergi di tengah hujan untuk mengantar barang.
Namun naas, karena kondisi fisik saat itu membuat TH sakit demam karena kehujanan. Hal itu membuatnya sakit tiga hari dan tidak masuk kerja. Setelah sehat, TH kembali masuk kerja. Namun karena tiga hari tidak masuk, TH langsung kena marah dan langsung dipecat. Padahal TH baru bekerja 3 minggu. TH pun dikasih gaji 75 ribu selama 3 minggu.
TH pun kembali menganggur dan terpaksa cari kerja lagi. Waktu itu ada tempat pengumpulan barang bekas di Kampung Baru, marga Manurung. Sambil menunggu dapat pekerjaan baru, TH pun akhirnya memilih bekerja disitu.
Namun TH tidak bisa berlama-lama bekerja disitu. Malahan, TH hanya bertahan lima hari kerja karena tak sanggup dengan kesehatan. TH terpaksa keluar karena alergi kulit. Saat itu pun TH berpikir jauh kali dari Jakarta kalau hanya jadi pemulung. Di Jakarta juga bisa.
*) Dari Tukang Cuci Mobil Bisa Kenal Pengusaha Koperasi
Setelah tidak memiliki pekerjaan, TH kembali ikut jadi kernet di angkot Sitorus. Biasanya tiap sore, angkot selalu dibawa ke tempat cuci mobil di Jalan Engku putri setelah selesai beroperasi. Karena merasa tidak enak numpang terus sama Sitorus, maka TH menemui para pekerja di tempat cuci mobil dan bertanya lowongan pekerjaan. Ternyata saat itu memang masih dibutuhkan tenaga kerja. TH pun bekerja ditempat itu yang pemiliknya Silaban.
Namun lagi-lagi TH nababan hanya bertahan tiga bulan kerja ditempat itu. Perpindahannya bermula ketika dirinya melihat sebuah kantor yang berada di sekitar tempat cuci mobil. Tertarik dengan pekerjaan di kantor itu, TH memberanikan diri menemui pimpinannya dan bertanya tentang jenis pekerjaan di tempat itu.
Rupanya kantor itu merupakan kantor koperasi. Pemimpinnya juga orang Batak memiliki marga Marbun. TH pun meminta ingin jadi karyawannya.
“Aku prinsipnya dalam hidup ini bukan cari gaji. Kulihat pekerjaan kalian ini cukup baik” Aku minta kerja tidak usah digaji. Sekiranya aku tidak layak jangan pakai aku,” begitulah kalimat yang diutarakan TH kepada pemilik koperasi itu.
Mendengar itu, Marbun pun memberikan kesempatan training 3 bulan kepada TH. Namun dalam dua bulan perjalanan kinerja TH dianggap sangat baik dan dapat pujian dari Marbun. Hal itu yang membuat Marbun langsung memberikan gaji kepada TH pada bulan kedua kerja. Bahkan dibulan itu juga TH langsung diangkat jadi karyawan tetap.
Di tempat itu, TH memiliki banyak pengalaman dan ilmu yang didapat. Setelah bekerja selama satu tahun TH akhirnya permisi mau mandiri berdiri sendiri. TH pun pamit kepada Marbun untuk keluar dari tempat itu dengan alasan mau buka koperasi usaha sendiri.
Namun lagi-lagi TH hanya bermodal nekat. Bagaimana tidak modal yang dimiliki juga hanya sedikit. Hanya bermodalkan sisa gaji yang ditabungnya tiap bulan. Bahkan sepedamotor pun tak punya.
Marbun yang melihat kondisi TH waktu itu berinisiatif baik dan membantu TH untuk bisa kredit sepedamotor. Namun waktu itu ternyata TH pun tak bisa kredit motor karena hanya memiliki KTP Kuning Jakarta. Dengan bantuan Marbun akhirnya TH bisa mengurus KK hingga bisa memiliki KTP.
Setelah memiliki KTP, TH pun langsung membeli sepedamotor pertamanya di Tanjungpinang bermerek Supra Fit.
Namun yang menjadi kendala lain ternyata menjalankan koperasi ini juga butuh modal besar.
“Uang tidak cukup. Akhirnya beranikan diri telepon ke Jakarta. Padahal sudah lama tidak kasih kabar ke keluarga di Jakarta. Karena pergi dari Jakarta merantau ke Tanjungpinang tidak kasih kabar,” jelas TH menjelaskan sambil menyeruput kopinya.
*)Sempat Dicariin Keluarga dan Didoakan Khusus Pada Malam Pergantian Tahun Baru

Keluarga TH Nababan selama satu tahun sudah merasa kehilangan atas keberadaannya yang tidak ada kabar.
Ternyata TH pergi meninggalkan Jakarta dan keluarga tanpa diketahui satupun keluarga.
Satu tahun tidak pernah bertemu TH Nababan, keluarga berkumpul menjelang pergantian Tahun Baru. Malam itu keluarga mendoakan khusus untuk TH Nababan. “Tuhan jika anakku masih hidup atau sudah tidak ada lagi, tolonglah beri kabar,” begitulah doa Ibu TH Nababan seperti dijelaskan TH Nababan.
Namun tanpa diduga pada malam pergantian tahun baru itu juga TH melakukan panggilan kepada keluarga di Jakarta. Saat itu tujuan TH menelepon keluarga di Jakarta untuk meminta modal untuk menjalankan koperasi yang sudah dijalankannya.
Setelah mendapat panggilan dari TH, ibunya pun menangis sedih bercampur bahagia. “Tuhan engkau telah menjawab doa kami” kata Ibu TH lewat panggilan telepon itu kepada TH. Bagaimana tidak baru didoakan tetapi sudah langsung dapat jawabannya.
Setelah komunikasi panjang lewat telepon, TH pun akhirnya memberi tahu tinggal di Tanjungpinang. Tidak sungkan-sungkan TH minta tolong untuk dibantu modal. Keluarga pun akhirnya memberi bantuan modal dari keluarga sebesar Rp20 juta di tahun 2004.
Berangkat dari modal itulah jalan kehidupan TH makin sukses dengan pekerjaannya menjalankan koperasi. TH menjelaskan di tahum 2005 TH sudah memiliki satu karyawan. Dengan modal yang semakin bertambah pada tahun 2006, TH pun menambah karyawan menjadi tiga orang dan menyewa kantor di Jalan Anggrek Merah. Profesi itupun dia jalankan sampai tahun 2020. TH mengakui selama menjalani profesi itu cukup memiliki modal dan keuntungan yang lumayan besar.
Sedikit bercerita tentang keluarga TH, ternyata orangtua TH pernah memiliki pabrik Tahu di Pasar Minggu, Jakarta. Awalnya pabrik tahu yang mereka kelola sangat sukses. Ekonomi keluarga mereka pun tergolong berkecukupan saat itu. Namun lama-kelamaan karena sesuatu hal, ekonomi keluarga TH akhirnya merosot karena pabrik tahu yang dijalankan lambat laun tidak sesukses awalnya. Ekonomi mereka pun kembali tidak stabil.
TH bercerita, sebelum di Jakarta, keluarga mereka awalnya tinggal di Kota Cane, Aceh. Namun karena kondisi ekonomi yang kurang baik di Aceh membuat keluarga mereka merantau ke Jakarta. Tinggal di Jakarta membuat kehidupan ekonomi sempat membaik. Namun kondisi itu tidak bertahan seterusnya dan kembali ke kehidupan ekonomi sederhana. Hal itulah yang membuat TH berinisiatif untuk pergi dari Jakarta mencari kehidupan baru di daerah lain.
Memiliki sebuah tekat, TH bersama temannya berangkat menuju Kota Batam sebagai daerah tujuan yang ingin dicapai waktu itu. Ternyata Batam tidak jadi didatangi akhirnya Tanjungpinang yang jadi tempat persinggahan.
*)Dari Profesi Koperasi Beralih Jadi Pengusaha Kebun
Masa pandemi covid yang terjadi mulai tahun 2019 membuat bisnis koperasi yang dijalankan mulai mengalami kemerosotan. Tidak mau terlena dengan kondisi, TH akhirnya memilih untuk meninggalkan profesi koperasi yang sudah digelutinya sejak 14 tahun itu.
Sebenarnya pekerjaan berkebun itu sudah mulai digeluti tahun 2007. Modal yang berhasil dikumpulkan TH selama berkoperasi ternyata sebagian sudah dibelikan lahan. Namun penjelasan TH, kebanyakan lahan yang dibelinya sebetulnya bukan karena keinginan memiliki kebun. Melainkan karena ada kebutuhan mendesak pemilik lahan yang butuh uang sehingga menjual lahannya. Karena merasa iba dan ingin membantu, TH pun membeli lahan yang ditawarkan kepadanya.
Salah satu lahan yang pernah dibelinya adalah milik lahan Sitorus. Sitorus yang dimaksud adalah keluarga pertama yang dijumpai mereka ketika tiba pertama kali di Tanjungpinang.
TH membeli tanah Sitorus ketika hendak membantunya dari penyelesaian permasalahan tanah yang dimiliki Sitorus. Waktu itu Sitorus bermasalah dengan pembeli pertama yang membeli tanahnya. Tanah Sitorus waktu itu belum dibayar pihak pertama yang hendak membeli tapi sudah dikapling oleh orang itu dan menjual kembali kepada orang lain hanya bermodalkan fotocopy surat lahan.
TH yang sudah merasa berhutang budi kepada Sitorus akhirnya bersedia membantunya meskipun harus melewati banyak perjuangan saat itu. Akhirnya tanah itu bisa menjadi milik TH setelah menyelesaikan segala permasalahan yang berkaitan dengan lahan tersebut.
Lahan itu kini sudah ditumbuhi jeruk sambal dan aneka sayuran. Selain lahan tersebut, TH juga sudah memiliki sejumlah lahan lainnya yang luasnya cukup signifikan. Ada juga lahan yang sudah ditanami ribuan kelapa. Bahkan tidak hanya lahan, TH juga sudah memiliki sejumlah bangunan ruko dan beberapa rumah yang berhasil dibelinya selama ini.
TH kini sudah memiliki tiga anak hasil dari buah perkawinan nya di tahun 2007. Meskipun sudah memiliki kehidupan mapan namun dalam kesehariannya TH tidak terlihat hidup glamour. Bahkan dalam kesehariannya TH sering mengenakan pakaian kaos yang sudah lusuh dan bahkan sudah robek.
“Dalam hidup ini kita hanya perlu mengandalkan Tuhan dalam setiap tindakan kita. Tidak perlu ada yang disombongkan. Jika Tuhan berkehendak, apa yang kami miliki ini bisa segera diambil kembali. Jadi untuk apa menyombongkan diri,” ujar TH sambil menutup pembicaraannya. ***



