*)Stasi Tanjungpinang : Niat Mulia Ditentang Residen
Beritaibukota.com,TANJUNGPINANG – STASI TANJUNGPINANG diresmikan pada 12 Februari 1939.
Ketika itu, Pater I. Meijer datang bersama seorang katekis asal Singapura. Karena katekis itu sudah berkeluarga, mereka mendiami sebuah rumah sewaan, sedangkan Pastor Meijer menempati sebuah ruangan kamar di gereja yang sudah berdiri 1933.
Stasi Tanjungpinang di pulau Bintan ini memiliki wilayah cakupan di Riau bagian timur. Sementara Stasi Tanjungbalai fokus pada pelayanan di Riau bagian barat.
Tak lama setelah bertugas di Tanjungpinang, Pastor Meijer segera membuka sekolah Tionghoa dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Sang pastor sendiri yang mengajar bahasa Inggris. Sementara katekis yang menemaninya juga ikut mengajar di sana. Pada 1939, Pater Corijn datang dan diperbantukan untuk menggantikan tugas Pater Meijer mengajar bahasa Inggris.
Kesempatan ini dimanfaatkan Pater Meijer untuk menunaikan aktivitas lain. Kala itu, pemerintah meminta agar misi suka menerima pimpinan dan pengusahaan rumah sakit pemerintah di Tanjungpinang. Pembesar-pembesar misi menerima baik niatan itu. Semua surat resmi penyerahaan pimpinan dan pengusahaan rumah sakit akan diserahkan kepada misi. Bahkan, sebuah kongregasi suster dari Breda, Belanda, sudah menyanggupi untuk memimpin dan mengusahakan rumah sakit tersebut.
Sayangnya, di momen itu, seorang residen baru ditugaskan di Tanjungpinang. Meski beragama Katolik, dia menentang rencana yang sudah disepakati oleh residen sebelumnya. Putusan penyerahan dan pengusahaan rumah sakit akhirnya dibatalkan.
Pater Corijn pun tidak lama berada di Tanjungpinang. Pada Juli 1940, dia dipindahtugaskan ke Pangkalpinang. Ketiadaan Pater Corijn ini memaksa Pater Meijer kembali mengajar bahasa Inggris di sekolah. Karena situasi ini, Pater Meijer meminta kepada Stasi Tanjungbalai untuk ikut melakukan kunjungan di wilayah Riau bagian Timur.
Pendudukan Jepang di Tanjungpinang pada 20 Februari 1942 berimbas pada aktivitas stasi. Pater Meijer dikenakan status sebagai tahanan rumah.
Pada 19 Maret di tahun yang sama, Pater Meijer diangkut ke Singapura. Ia sempat mengalami sakit keras sehingga tidak dijebloskan ke kamp tahanan. Sepuluh hari kemudian, barulah ia secara resmi dimasukkan ke dalam interniran. Di sana, Pater Meijer berjumpa dengan pater-pater lain yang ditahan dari Tanjungbalai.(BERSAMBUNG)



