Jumat, Mei 8, 2026
BerandaTanjungpinangGereja Katolik Kristus Raja Tanjungpinang : Seperempat Abad Menemani Umat (tamat)

Gereja Katolik Kristus Raja Tanjungpinang : Seperempat Abad Menemani Umat (tamat)

*)Tanggapan Para Imam Yang Perenah Bertugas Di Paroki HSMTB

PAROKI YANG IBU
Oleh RD. Marianus Manse
Pastor Paroki Tanjungpinang 2007-2010

Beritaibukota.com,TANJUNGPINANG – PAROKI TANJUNGPINANG adalah paroki tertua di wilayah kepulauan Riau. Sebuah paroki yang bisa diibaratkan sebagai ibu yang sudah memasuki usia senja dan telah beranak pinak sampai ke cucu dan cicit.

Berkarya di paroki ini selama kurang lebih tiga tahunan bersama tiga orang pastor pembantu, adalah sesuatu yang menarik karena sebelumnya saya berkarya sendiri di sebuah paroki yang kecil. Kesan pertama ketika menginjakkan kaki di Tanjungpinang adalah sebuah tempat yang antik dan menarik. Hal ini tampak dari gereja dan pastoran tua yang memasuki usia 75 tahun.

Saya disambut dengan ramah oleh tim pastores dan DPP. Bulan-bulan pertama berkarya merupakan kesempatan untuk mengenal dan menyesuaikan diri dengan umat dan situasi pastoral. Butuh waktu karena paroki ini sungguh luas dengan kemajemukan umat yang terdiri dari berbagai etnis.

Menangani sebuah paroki tua yang cenderung statis memang tidaklah mudah. Perubahan sekecil apapun membutuhkan waktu yang sedikit panjang untuk dapat diterima dengan baik. Ketika masuk ke Tanjungpinang, situasi saat itu sedang hangat-hangatnya gema cara baru hidup menggereja melalui ASIPA. Sharing Injil menjadi agenda utama dalam pertemuan KBG, namun tidak semua KBG bisa langsung menerapkan 7 langkah.

Beralih dari Rosario kepada Sharing Injil bukanlah sesuatu yang mudah. Perlu penyesuaian dan motivasi untuk mendorong umat berbagi pengalaman iman sesuai sentuhan yang dirasakan dari Sabda Tuhan. Pemandangan yang lazim terjadi adalah kehadiran umat jauh lebih banyak pada saat doa Rosario ketimbang Sharing Injil. Di beberapa KBG terpaksa diambil kebijaksanaan untuk hanya menjalankan 4 atau 5 langkah untuk secara perlahan membiasakan umat dengan Sharing Injil.

Dalam pelayanan pastoral, saya merasakan jalinan kerja sama yang sangat baik antara kami, para imam, dan juga Dewan Pastoral Paroki, sehingga beberapa agenda besar dapat terlewati dengan baik, seperti Perayaan 75 tahun gereja HMSTB dan tahbisan, kunjungan Dubes Vatikan. Kegiatan pelayanan pastoral masih berkisar pada seputar altar: misa dan pelayanan sakramen.

Program-program yang bersifat visioner dan jangka panjang, seperti pembinaan dan pendampingan keluarga (pra nikah dan post nikah), orang muda dan anak remaja belum sungguh-sungguh mendapat perhatian serius dan tim yang solid untuk menangani. Demikian juga karya karitatip sebagai wujud nyata keberpihakan gereja terhadap orang kecil, miskin, sakit, dan berkekurangan.

Keterlibatan umat dalam kegiatan pastoral dan kehidupan menggereja, khususnya dalam doa, misa dan perayaan cukup bagus. Hal ini ditopang oleh sumber daya manusia yang baik dan kesadaran serta kerelaan untuk memberi diri. Kehadiran sekolah Katolik dan asrama memberi sumbangan yang sangat berarti bagi pertumbuhan dan perkembangan paroki ini.

Semoga Paroki Tanjungpinang semakin bersinar ke depan dan menjadi contoh bagi paroki-paroki yang berada di wilayah kepulauan Riau, mengingat paroki ini berada di ibu kota Provinsi Kepri.

GEREJA TANJUNGPINANG TERUS DALAM PROSES
Oleh RD. Laurensius D. Sanga
(Pastor yang pernah bertugas di Tanjungpinang 2001-2007)

RD. Laurensius D. Sanga (Pastor tugas di Tanjungpinang 2001-2007) f,komsos
RD. Laurensius D. Sanga (Pastor tugas di Tanjungpinang 2001-2007) f,komsos

SAYA bertugas di Paroki Hati Santa Maria Tak Bernoda, Tanjungpinang, pada tahun 2001–2007. Pada periode ini, umat Paroki Tanjungpinang tergolong banyak, meski tidak sebanyak saat ini karena jumlah itu berproses.

Ada empat orang Imam yang setia melayani umat. Keempat Imam tersebut tinggal di pusat paroki Tanjungpinang. Sebagai paroki pertama di Provinsi Kepulauan Riau, tentu luas wilayah pun sangat mencengangkan. Secara administratif pemerintahan, saat itu, Paroki Tanjungpinang terdiri dari wilayah Kota Tanjungpinang, Kabupaten Bintan, Kabupaten Natuna, dan Kabupaten Anambas.

Bersyukur bahwa saat ini, sudah ada pemekaran paroki yaitu Paroki Anambas. Sudah ada 2 orang pastor tinggal menetap di sana. Wilayah Natuna masih menjadi bagian dari Paroki Tanjungpinang, tetapi bersyukur ada satu pastor tinggal menetap di sana. Wilayah Bintan-khususnya Tanjunguban, ada dua pastor yang tinggal menetap di sana. Hebat, kan?
Kala itu, melihat jumlah umat yang menyebar di enam pulau, kami menggunakan sistem pemetaan wilayah pelayanan yang ditangani oleh pastor tertentu. Khusus wilayah Natuna dan Anambas, satu pastor ditempatkan di sana, meski semuanya tetap difokuskan di Paroki Tanjungpinang. Kendaraan yang dipakai adalah kapal laut. Menyadari jangkauan wilayah yang sangat luas, maka pelayanan Sakramen pun tidak selancar seperti dewasa ini.

Cara hidup menggereja sejak tahun 1994 adalah hidup dalam Komunitas Basis Gereja (KBG). Salah satu ciri KBG adalah hidup bersaudara. Persaudaraan yang mereka bangun adalah tanpa membeda-bedakan satu dengan yang lain. Setiap Minggu, mereka berkumpul untuk berdoa, ber-sharing Kitab suci, dan lain-lain. Menariknya mereka tidak membeda-bedakan apa latar belakang suku. Mereka menyadari bahwa Katolik-lah yang mempersatukan mereka.

Meskipun pelayanan pastoral tidak selancar seperti gereja dewasa ini, umat bisa mandiri mengatur tata cara ritual iman.

Selama lebih kurang enam tahun saya bertugas di Paroki Tanjungpinang. Ada satu hal yang berkesan untuk saya adalah bahwa di bawah kepemimpinan saya, Gereja Tanjungpinang bisa MANDIRI. Kemandirian ini Nampak dalam menata sumber daya manusia, mengelolah hal keuangan, mengatur pembayaran gaji karyawan. Dan saat itu, alamarhum bapak Uskup: Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD mengucapkan proficiat secara khusus atas keberanian kami memproklamirkan paroki Tanjungpinang sebagai Paroki Mandiri.
Semuanya ini terjadi berkat kerja sama antara para Imam dengan umat. Hal ini perlu dicatat bahwa bukan berarti tidak ada hubungan dengan Keuskupan Pangkalpinang, loh. Kita tetap berkoordinasi dalam tatanan hubungan vertikal.

Saya menyadari bahwa masih banyak hal yang menjadi kekurangan. Karena prinsip dasar yang kita pegang adalah bahwa gereja itu berjalan dalam proses.
Saya sebagai Imam Diosesan Keuskupan Pangkalpinang pasti mengikuti arus pergeraakan catur pastoral setiap paroki di keuskupan. Tentu sekali kita berharap setiap paroki tetap mengikuti arah pastoral yang dicanangkan oleh bapa Uskup sebagai pimpinan tertinggi dari Keuskupan. Kita boleh merancang kegiatan secara variatif, tetapi kiblatnya harus satu dan sama menurut arah dasar Gereja Keuskupan Pangkalpinang. ***

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses