Minggu, April 19, 2026
BerandaTanjungpinangPastor Henry Yoseph Jourdain, Misionaris Perancis Penggagas Berdirinya Gereja Kristus Raja di...

Pastor Henry Yoseph Jourdain, Misionaris Perancis Penggagas Berdirinya Gereja Kristus Raja di Tanjungpinang

Beritaibukota.com,TANJUNGPINANG – Gereja Katolik Kristus Raja di Batu Kucing, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepri akan memasuki usianya yang ke 25 tahun 23 November 2022.

Gereja Kristus Raja diresmikan 23 November 1997 oleh Mgr. Hilarius Moa Nurak dan Bupati Bintan H. Abdul Manan Saiman (pada waktu itu belum jadi propinsi kepri masih bagian dari propinsi Riau).

Berdirinya Gereja Kristus Raja ini tidak lepas dari kegigihan dan pemikiran seorang pastor misionaris dari Perancis yang bertugas di Tanjungpinang kala itu. Namanya Pastor Henry Yoseph Jourdain, MEP.

Pastor Henry adalah penggagas sekaligus penyedia dana dan pencari donatur berdirinya Gereja Kristus Raja di Batu Kucing, Tanjungpinang. Berdirinya Gereja Kristus Raja tidak akan pernah bisa terlepas dari perjuangan Pastor Henry. Bahkan jika dilihat dari usulan, sumber dana dan lainnya, Gereja Kristus Raja adalah buah tangan dari Pastor Henry Yoseph Jourdain di masa hidupnya. Pastor Henry selama masa hidupnya sudah berkarya 30 tahun lebih di Tanjungpinang.

Pastor Henry memiliki ide awal membeli lahan di seputaran Batu Kucing karena melihat perkembangan umat yang semakin membludak di Tanjungpinang. Lahan ini dibeli Pastor Henry dari uang pribadi dan sumbangan yang diperolehnya dari luar negeri.

Adapun sejarah singkat Pastor Henry Yoseph Jourdain, MEP, dilansir dari berkatnews.com, dan berbagai sumber, Pastor Henry lahir di Quentin, Perancis 4 Mei 1928 dan Meninggal 22 Maret 2017 di Perancis. Pastor Henry mMemiliki 7 saudara. Pastor Henry merupakan anak ke 5 dan mulai masuk Seminari di usia 18 tahun.

Pastor Henry dalam panggilannya, memilih masuk menjadi Imam Missions Etrangeres de Paris (Serikat Misi Imam Praja dari Paris) disingkat MEP. Ditahbiskan 1 Juni  1952 dan bertugas pertama di Birma (Myanmar) tahun 1953. Di Birma, Pastor Henry melayani 50 stasi yang semuanya berada di wilayah pegunungan.

Perjalanan misi Pastor Henry di Birma harus berakhir dikarenakan menjelang tahun 1960, kondisi politik di Birma bergejolak. Akibatnya semua Imam Katolik diusir dari Birma. Tahun 1966 Pastor Henry meninggalkan umat Katolik di Birma dan kembali ke Perancis. Melayani umat selama 13 tahun membuat Pastor Henry merasa sedih karena meninggalkan mereka dalam penderitaan.

Tidak lama kemudian Pastor Henry melayani umat Katolik di Vietnam tahun 1967. Kondisi Vietnam yang masih bergejolak membuat Pastor Henry ditempatkan bersama pengungsi. Di Vietnam Pastor Henry mendapat bantuan sumbangan keuangan dari keluarganya. Pastor Henry membeli 80 traktor yang digunakan untuk bangun jalan, bendungan, buka persawahan dan ladang untuk para pengungsi. Bahkan Pastor Henry juga membuat pipa air sepanjang 2 kilometer untuk mengairi persawahan. Semakin gigihnya Pastor Henry bekerja membuat lututnya cederea sehingga membuatnya susah berlutut.

Pastor Henry kembali diusir dari Vietnam tahun 1974 ketika negara Vietnam jatuh ke tangan komunis. Umat di Vietnam banyak yang terpencar menyelamatkan diri dari tirani komunis Vietnam. Umat Vietnam ini lah yang menjadi sejarah para pengungsi yang berlabuh di Pulau Galang, Batam.

Pastor Henry setelah dari Vietnam kembali ke rumah induk MEP Perancis dan tinggal di sana sampai tahun 1977.

Tahun 1977 bersama mantan Usup Agung Kamboja, Mgr Ives Ramousse, Pastor Henry tiba di Tanjungpinang. Awalnya Pastor Henry berangkat ke Bandung Mei 1978 untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia selama 3 bulan. Setelah itu Pastor Henry kembali ke Tanjungpinang.

Pastor Henry selama di Tanjungpinang harus menaklukkan perjalanan pegunungan. Pada masa itu jalanan di Tanjungpinang belum seperti sekarang. Perjalanan masih harus melewati banyak bukit. Selain di Tanjungpinang, Pastor Henry juga melayani umat di daratan Pulau Bintan dan ganasnya lautan.

Pastor Henry terkenal dengan motor Fl Max nya selama melakukan perjalanan menemui umat. Tiap stasi Pastor Henry harus menginap, mulai dari Kawal, Telukdalam, Berakit kemudian ke Tanjungubang. Sementara di lautan Pastor Henry harus melayani dari Pulau Tujuh, Ranai, Tarempa, dan Airsena.

Pastor Henry berasal dari keluarga kaya. Namun sebagai orang yang sudah memilih hidup sebagai Imam, Ia menghidupi panggilan sebagai orang sederhana.

Dari informasi yang dikumpulkan, Pastor Henry lebih memilih membeli tembakau daripada rokok jadi. Masalah pakaian, Pastor Henry juga tidak boros dan bahkan tetap memakai pakaian yang sudah cingkrang karenan kekecilan. Lebih uniknya lagi, ruang tidur di pastorannya juga tidak memiliki kasur, dan tidak pakai sprei atau kelambu.

Dana yang ia miliki sendiripun malahan dipergunakan untuk keperluan umat. Hal ini bisa terlihat dari dana pribadi yang digunakannya untuk bangun sekolah di Airsena yang kemudian diambil alih oleh pemerintah. Pastor Henry juga membangun kapel Airsena, Mengkait dan Tarempa. Pastor Henry juga membangun sekolah kecil dan kapel sederhana di Pulau Manik, Pongo, Tanjung Gantung, dan beberapa tempat lainnya.

Pastor Henry juga mencarikan dana untuk pembangunan aula bukit Tabor, asrama Putra Tarsisius, Gereja Kristus Raja dan Gereja Katolik di jalan Lobam. Pastor Henry juga membelikan beberapa mobil dan motor di pastoran Tanjungpinang. Belum lagi ia juga banyak membantu umat tidak mampu yang sakit untuk berobat dan operasi ke luar negeri.

Penulis : Rinto Situmorang

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses