Memudarnya Narasi Kebencian Sarat Perpecahan pada Pemilu 2024
Penetapan tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden menjadikan Pemilu 2024 tidak ‘sepanas’ lima tahun sebelumnya, yang diikuti dua pasangan saja. Narasi kebencian berganti kreativitas memenangkan hati pemilih muda.
Fatih Muftih, Tanjungpinang
Sepasang anak muda yang sedang kongko di kedai kopi di jalan Pramuka, Bukit Bestari, bukanlah pemilih pemula. Rizky, 25 tahun. Hery, 26 tahun. Tahun ini akan jadi pengalaman kedua mereka memilih langsung calon presiden dan wakil presiden. Jika pada pemilu lima tahun lalu mereka berbeda pilihan, tahun ini mereka mengaku mendukung paslon yang sama.
Mereka saling gojek untuk menuding siapa dari mereka yang lebih dahulu menyatakan dukungan untuk paslon pilihan. Tapi, itu tidak penting, karena, kata mereka, yang paling penting adalah paslon pilihannya bisa menang. “Kalau pemilu yang kemarin, kami beda pilihan, Bang, makanya kami asyik berdebat terus tiap ngopi,” kenang Rizky.
Hery tidak menampik kisah temannya. Malah, kata dia, perdebatan karena beda dukungan itu bisa sampai memunculkan kejengkelan satu sama lain. Saat itu, baik dia maupun Rizky, ketika ngopi, saling beradu argumen dengan menyodorkan konten-konten politis yang bertebaran di media sosial, yang, sayangnya, mereka mengaku terpapar konten-konten dengan narasi kebencian untuk menjelekkan dan menjatuhkan satu sama lain.
“Sampai [aku] pernah malas mau ngopi sama Rizky karena perbedaan itu,” ucap Hery yang ditingkahi tawa Rizky di sebelahnya.
Jalinan pertemanan antara Rizky dan Hery sudah berlangsung sejak duduk di bangku SMA, berlanjut di kampus yang sama, dan nyaris terputus karena beda pilihan pada Pemilu 2019. Beruntung, usai presiden terpilih ditetapkan, mereka membuang semua ego perbedaan dan kembali ngopi seperti sedia kala.
“Lucu kali, kan, kalau karena beda pilihan capres sampai rusak pertemanan,” ujar Hery.
Jadi, siapakah cebong dan kadrun di antara Rizky dan Hery ketika itu? Mereka berdua tertawa terbahak-bahak mendengar dua kata itu. “Sudah lama kali tidak dengar sebutan itu, ya. Kalau dulu, di mana-mana orang pakai istilah itu,” timpal Rizky.
Ya, cebong dan kadrun bukan sembarang istilah. Istilah ini juga bukan lucu-lucuan semata. Istilah ini bahkan sampai melahirkan polarisasi di kalangan masyarakat. Saking berbahayanya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengimbau agar istilah seperti cebong, kampret, atau kadrun tidak lagi digaungkan oleh siapa saja dalam pesta demokrasi tahun ini.
“Hal tersebut terus terjadi di grassroots. Mungkin elite mudah, hari ini berantem besok salaman, rangkul-rangkulan, tetapi di bawah tidak,” kata Jenderal Listyo pada upacara wisuda STIK Lemdiklat Polri.
Pembangunan Narasi Pemilu 2024
Selain jumlah paslon yang lebih banyak ketimbang pemilu lima tahun lalu sehingga tidak hanya terpusat dan terbagi dua kubu, sebaran usia pemilih pada Pemilu 2024 juga ikut berimbas pada pembangunan narasi komunikasi politik di ruang publik, baik di dunia maya maupun nyata. Dari 204,8 juta lebih pemilih tetap pada Pemilu 2024, sebanyak 113 juta di antaranya berasal dari generasi milenial (33,6%) dan generasi Z (22,85%).
Dengan persentase gabungan lebih dari separuh total pemilih (56,45%) adalah kawula muda, tidak heran jika tiap paslon dan timsesnya mengerahkan segenap kreativitas untuk memenangkan hati pemilih muda. Pergerakan ini amat mudah terbaca lewat arah komunikasi politik yang cenderung populis dari tiap paslon di ranah media sosial dan juga dalam ragam kesempatan penampilan publik mereka.
Paslon nomor urut 01, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, memanfaatkan kampanye atraktif ala anak muda dengan menggunakan referensi populer seperti film “Men In Black” dalam kampanyenya di media sosial, misalnya. Termasuk pula ada video yang menampilkan mereka bermain sarung dengan istilah slepet, yang kemudian slepet ini makin dipopulerkan oleh Muhaimin dalam debat cawapres.
Tak berhenti di situ, pasangan yang lekat dengan akronim AMIN ini juga aktif melakukan siaran langsung di beragam kanal media sosial. Yang paling populer adalah ketika Anies menyapa anak-anak muda lewat siaran langsung di TikTok. Peristiwa ini kontan jadi omongan di mana-mana dan mengarah pada fenomena @AniesBubble di platform X dengan lebih dari 179 ribu pengikut.
Paslon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, juga tidak kalah sensasional dalam mengomunikasikan gagasan politiknya di kanal media sosial. Citra jenderal tegas yang setidaknya melekat pada Prabowo selama 15 tahun belakangan beralih menjadi gemoy atau menggemaskan karena atraksi joget yang berulang kali ditampilkan oleh Prabowo dalam ragam kesempatan.
Pun keberadaan Gibran di sana juga jadi pembeda. Sebagai cawapres termuda, Gibran tahu benar cara berkomunikasi dengan generasi milenial dan generasi Z di media sosial. Referensi populer seperti anime Naruto dimanfaatkan Gibran sebagai bahan kreatifnya berkampanye. Guyonan-guyonan khas ala anak muda juga tidak sekali dua dilancarkan Gibran untuk menarik atensi pemilih muda.
Lalu paslon nomor urut 03, Ganjar Pranowo-Mahfud MD, juga tidak ingin ketinggalan memenangkan porsi besar pemilih muda pada pemilu tahun ini. Di Instagram, misalnya, Ganjar punya akun kedua @jajar_genjang yang isinya lebih kepada konten-konten mbanyol yang cenderung disukai anak muda. Aktivitas keseharian Ganjar pun ditampilkan lewat video-video lebih kasual dus jenaka ketimbang zaman masih menjabat sebagai gubernur Jawa Tengah.
Pasangannya, Mahfud MD, juga tidak kalah eksentrik lewat penampilannya di forum dialog “Tabrak Prof!” yang digelar di banyak daerah di Indonesia. Pada forum yang pesertanya sebagian besar adalah anak muda itu, Mahfud yang bergelar profesor dan guru besar bisa menyampaikan istilah-istilah rumit tentang pemerintahan menjadi lebih sederhana sehingga mudah dipahami oleh audiensnya.
Rendra Setyadiharja, dosen ilmu politik di Stisipol Raja Haji Tanjungpinang, menganggap fenomena komunikasi politik yang lebih cair yang ditampilkan oleh tiap paslon maupun timses sebagai siasat komunikasi yang lebih menggembirakan ketimbang pemilu-pemilu sebelumnya yang cenderung kaku.
“Saya rasa mereka mulai sadar bahwa anak-anak muda di Indonesia hari ini melek terhadap politik dan tidak dapat dimanipulasi dengan narasi-narasi yang menyebarkan kebencian atau permusuhan,” ujarnya.
Hal itu, lanjut Rendra, bisa ditengarai dengan tidak teramplifikasinya istilah-istilah aneh seperti cebong, kadrun, atau kata lain sejenisnya dalam perbincangan kontestasi politik hari ini. Dalam pengamatan Rendra, anak-anak muda hari ini justru mulai tertarik untuk terlibat lebih dalam dengan gagasan-gagasan politik yang diusung oleh paslon dalam kampanye. Misalnya, mengapa harus ada program ini dan mengapa program itu adalah solusi, adalah contoh kecil dialog yang sering hadir di antara anak muda hari ini.
“Coba lihat, sekarang juga lebih banyak anak-anak muda yang mulai menonton debat capres-cawapres dan mendiskusikan hasil perdebatan itu. Itu indikasi yang bagus,” kata akademisi yang juga budayawan ini.
Menurut Rendra, tidak ada yang salah dengan pendekatan populer dalam menyampaikan gagasan politik selama substansinya masih benar-benar terang. Dan yang paling penting, sambung Rendra, siasat-siasat yang digencarkan baik oleh paslon maupun timses itu tidak bermuatan negatif seperti menjelek-jelekkan paslon lain.
“Karena memang sekarang zamannya anak muda, sehingga paslon capres-cawapres mau tidak mau harus mengikuti spirit zaman atau mereka akan tertolak,” kata Rendra.
Muatan Emosi Kata
Novelis Eka Kurniawan pernah berucap lewat akun X-nya bahwa kata tidak netral, lebih lengkapnya begini: “Kata tidak netral. Kata tidak lahir dari kekosongan. Ia diciptakan manusia (dengan niat, emosi, nilai, dll), sama tidak netralnya ketika dibaca/dipakai (juga oleh manusia yang punya niat, emosi, nilai, dll).”
Jika hendak dikaiteratkan dalam kontestasi politik, kata-kata seperti cebong atau kadrun jelas melesat dari makna seharusnya. Cebong semula berarti anak katak. Kadrun adalah akronim dari kadal gurun. Pada Pemilu 2019, dua kata ini dipakai oleh pendengung untuk melabeli barisan pendukung paslon seberang: pendengung Prabowo melabeli pendukung Jokowi sebagai cebong dan pendengung Jokowi melabeli pendukung Prabowo sebagai kadrun.
Dua istilah ini, cebong dan kadrun, jika mengacu pada pendapat Eka, diciptakan oleh pihak tertentu dengan niatan dan muatan emosi tertentu.
Pendapat Eka diamini oleh Zainal Takdir, seorang penulis puisi di Tanjungpinang. Menurutnya, kata dipilih dan dipakai untuk alasan tertentu. “Pada kata cebong dan kadrun, ada muatan emosi yang amat negatif di balik dua kata itu. Contohnya, kalau kamu menolak disebut cebong, berarti kamu kadrun, begitu juga sebaliknya. Tidak ada dari dua kata itu yang memberikan emosi positif, baik ketika dilabeli atau disebutkan,” terangnya.
Karena situasi zaman dan sebaran pemilih pemilu hari ini berbeda dibandingkan lima tahun lalu, Zainal tidak heran bilamana kata-kata bermuatan negatif seperti cebong dan kadrun itu dihindari. Eksistensi bahasa, sambung dia, juga berkenaan langsung dengan penuturnya. “Saya yakin anak muda sekarang tidak ada yang mau diidentifikasi dengan dua kata itu,” tekan Zainal.
Ketika cebong dan kadrun semakin tenggelam dalam obrolan pemilu hari ini, yang lantas muncul ke permukaan adalah kata-kata lain yang belum memiliki beban politis lebih berat. Ambil misal kata slepet yang identik dengan paslon 01, atau kata gemoy pada paslon 02, dan sat-set pada paslon 03. Kata-kata itu, menurut Zainal, belum “tercemari” oleh muatan emosi negatif sebagaimana yang pernah diemban cebong dan kadrun.
“Ketika para paslon dan timses-nya mengkooptasi kata-kata itu, orang-orang tidak berkeberatan. Walau sebenarnya kata seperti slepet, gemoy, dan satset itu bukan kata yang benar-benar asing dan baru,” tegas Zainal.
Pemilihan kata-kata yang cenderung ringan beban muatan emosinya dalam kampanye pemilu tahun ini, sambung Zainal, membuat dialog di dunia maya atau di kehidupan sehari-hari berlangsung lebih cair, lebih santai, dan lebih luwes, sehingga efek buruk berupa polarisasi tampak tidak hadir di tengah-tengah masyarakat.
“Kalau dulu, orang mudah saja mengatai lawannya cebong-lah, kadrun-lah. Sekarang, saya rasa tidak ada yang mengatai orang lain yang berbeda pilihan politik dengan slepet, gemoy, atau satset. Sebegitu besarlah dampak dari pemilihan kata-kata,” tegas Zainal.
Polarisasi akibat suhu kontestasi politik yang meninggi pada Pemilu 2019 membuat tiap paslon dan timses-nya kini sadar bahwa dalam mewujudkan pemilu yang damai harus dimulai dari pemilihan kata-kata. Situasi semacam ini yang Zainal harapkan juga terjaga jika kelak ada putaran kedua dan juga pada kontestasi pemilihan kepala daerah.
“Kata-kata yang baik bisa memenangkan hati orang. Salah memilih kata alamat celaka,” kata Zainal yang juga seorang pemantun ini.
Membenamkan ke dasar paling dasar kata cebong dan kadrun sekaligus mengucapkan selamat tinggal pada dua kata itu adalah langkah awal yang positif untuk menghindarkan polarisasi di tengah masyarakat. Karena, menurut Jenderal Listyo, kata-kata sejenis itu mengorbankan nilai-nilai yang ada di masyarakat, yang selama ini dikenal ramah, persaudaraannya tinggi, sangat menghormati keberagaman, menjaga keberagaman, dan menjaga persatuan dan kesatuan.
“Itu yang tidak boleh luntur dari kita,” tegas Kapolri.
penulis: fatih muftih/beritaibukota.com
editor : redaksi



