Beritaibukota.com,TANJUNGPINANG – Pulau Penyengat menjadi kawasan strategis pariwisata di Tanjungpinang yang paling banyak dikunjungi. Tidak hanya dikunjungi warga lokal tapi kawasan pariwisata yang terletak di Pulau Penyengat ini juga banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.
Berkunjung ke Penyengat akan memberi para pengunjung banyak pemandangan objek-objek bersejarah. Salah satu objek yang pertama kali akan dijumpai yaitu Masjid Raya Sultan Riau.
Masjid ini menjadi tempat ibadah umat Muslim yang paling bersejarah di Kepulauan Riau bahkan di Indonesia. Konon masjid yang kini bercat kuning hijau ini dibangun dengan bahan perekat material bukan dari semen, melainkan putih telur.
Sejak dibangun tahun 1832 dengan bangunan beton seperti yang kita lihat sekarang ini, Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat tidak pernah di renovasi atau di ubah bentuknya.
Jika melihat sejarah berdirinya Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat dilansir dari laman wikipedia Masjid ini mulai dibangun sekitar tahun 1771-1815. Pada awalnya, masjid ini hanya berupa bangunan kayu sederhana berlantai batu bata yang hanya dilengkapi dengan sebuah menara setinggi lebih kurang 6 meter. Namun, seiring berjalannya waktu, masjid ini tidak lagi mampu menampung jumlah anggota jemaah yang terus bertambah sehingga Yang Dipertuan Muda Raja Abdurrahman, Sultan Kerajaan Riau-Linggga pada 1831-1844 berinisiatif untuk memperbaiki dan memperbesar masjid tersebut.
Untuk membuat sebuah masjid yang besar, Sultan Abdurrahman berseru kepada seluruh rakyatnya untuk beramal dan bergotong-royong di jalan Allah. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada tanggal 1 Syawal 1248 Hijriah (1832 M), atau bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Panggilan tersebut ternyata telah menggerakkan hati segenap warga untuk berkontribusi pada pembangunan masjid tersebut.
Orang-orang dari seluruh pelosok teluk, ceruk, dan pulau di kawasan Riau Lingga berdatangan ke Pulau Penyengat untuk mengantarkan bahan bangunan, makanan, dan tenaga, sebagai tanda cinta yang tulus kepada Sang Pencipta dan Sang Sultan. Bahkan, kaum perempuan pun ikut serta dalam pembangunan masjid tersebut sehingga proses pembangunannya selesai dalam waktu yang cepat. Terbukti, fondasi setinggi sekitar 3 meter dapat selesai hanya dalam waktu 3 minggu.
Konon, karena banyaknya bahan makanan yang disumbangkan penduduk, seperti beras, sayur, dan telur, para pekerja sampai merasa bosan makan telur sehingga yang dimakan hanya kuning telurnya saja. Karena menyayangkan banyaknya putih telur yang terbuang, sang arsitek memanfaatkannya sebagai bahan bangunan. Sisa-sisa putih telur itu kemudian digunakan sebagai bahan perekat, dicampur dengan pasir dan kapur, sehingga membuat bangunan masjid dapat berdiri kokoh, bahkan hingga saat ini.
Untuk dapat mencapai Masjid bersejarah ini bisa ditempuh dari pusat Kota Tanjung Pinang dengan menggunakan perahu bermotor atau lebih dikenal pompong yang memerlukan waktu tempuh kurang lebih 15 menit.
Namun bagi warga yang datang dari Batam, harus terlebih dahulu menaiki kapal dari Batam ke Tanjungpinang dengan jarak tempuh 1 jam perjalanan laut. Rute penyeberangan Tanjung Pinang ke Batam beroperasi mulai jam 07.30 WIB sampai pukul 17.30 WIB.
Masjid ini setiap harinya sangat ramai dikunjungi terutama umat Muslim untuk melaksanakan ibadah. Apalagi jika hari Jumat jumlah umat yang datang ke Masjid itu jauh lebih banyak.
Di sekitar Masjid juga tersedia tempat makan. Dengan begitu para pengunjung tidak perlu takut kelaparan karena bisa langsung menikmati makan siang.
“Saya sering mengunjungi Masjid ini. Sebagai masjid bersejarah ada kebanggaan bisa melaksanakan ibadah di tempat ini,” kata Sutana salah satu warga yang datang berkunjung ke Penyengat.
Plt Kadis Pariwisata Kepri, Heri Mokhrizal mengatakan Gubernur Kepri telah meresmikan Revitalisasi Masjid Raya Sultan Riau Penyengat dan Penataan Kawasan Pemukiman Pulau Penyengat Tahap I.
“Peresmiannya dilakukan langsung oleh Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad, di Pelataran Masjid Raya Sultan Riau Penyengat, beberapa waktu lalu,” kat Heri, Selasa (14/3).
Heri mengatakan revitalisasi Masjid Raya Sultan Riau tidak menghilangkan kelestariannya. Pelestarian yang dilakukan itu justru menjaga peninggalan-peninggalan di Pulau Penyengat.
“Masjid Raya Sultan Riau menjadi objek pariwisata religi yang terus harus dijaga dan dilestarikan,” kata Heri.
Penulis : beritaibukota.com
editor : redaksi



