Selasa, April 21, 2026
BerandaTanjungpinangGereja Katolik Kristus Raja Tanjungpinang : Seperempat Abad Menemani Umat (Bagian-1)

Gereja Katolik Kristus Raja Tanjungpinang : Seperempat Abad Menemani Umat (Bagian-1)

*)Kilas Balik Sejarah : Umat Dan Gereja Katolik di Tanjungpinang

Beritaibukota.com,TANJUNGPINANG – GEREJA KRISTUS RAJA telah berusia 25 tahun pada 23 November 2022. Sementara pada tahun yang sama, Gereja Hati Santa Maria Tak Bernoda (HSMTB) juga genap berusia 90 tahun.

Sehingga jika hendak membicarakan Gereja Kristus Raja, harus lebih dahulu menengok pada sejarah Gereja HSMTB Tanjungpinang di Jalan Diponegoro dan begitu pula mesti menyinggung riwayat panjang Keuskupan Pangkalpinang. Karena keberadaan gereja di wilayah Kepulauan Riau mulai terbangun pada masa Prefektur Apostolik Bangka Belitung (1923—1951).

Meski begitu, sebenarnya kawasan Kepulauan Riau pada akhir abad ke-19 sudah sering mendapatkan kunjungan misionaris. Pada 1849, misalnya, sejarah mencatat seorang pastor bernama Adr. Claessens., Pr, mengunjungi kawasan ini dan kemudian dia memasukkan Kepulauan Riau dalam wilayah stasi Sungaiselan di Bangka.

Pencatatan inilah yang kemudian membuka arus kunjungan misionaris selanjutnya oleh pastor-pastor Sungaiselan di kawasan Kepulauan Riau.

Melansir dari catatan buku gereja yang dikumpulkan beritaibukota.com dari perpustakaan Pastoran Jalan Diponegoro, bahwa Lima tahun setelah kedatangan Pastor Adr. Claessens., Pr, atau tepatnya pada 1854, Pastor Y.Y. Langenhoff adalah pastor pertama dari stasi Sungaiselan yang datang ke Kepulauan Riau. Pada kunjungannya ini, Pastor Langenhoff berhasil menemui 11 orang Tionghoa yang beragama Katolik. Lantas mengingat letak geografis Kepulauan Riau yang berdekatan dengan Singapura, pada awal abad ke-20, orang-orang Katolik di Kepulauan Riau makin rutin mendapatkan kunjungan imam dari Singapura.

Sementara itu, ketika Prefektur Apostolik Bangka Belitung didirikan, di Pulau Karimun dan di Pulau Sugi Bawah (Moro) sudah ada sekitar 50 orang Tionghoa Katolik yang menetap tinggal di sana. Rata-rata mereka hidup sebagai nelayan. Mereka berasal dari provinsi Fukien, Tiongkok, dan kebanyakan dari kota Pinghai.

Saat itu, di kota Pinghai ada paroki agak besar yang dipimpin oleh imam-imam Dominikan Spanyol. Sebelum mereka datang merantau ke Kepulauan Riau, mereka sudah menjadi Katolik di paroki Pinghai tersebut. Setelah mereka tinggal menetap di Kepulauan Riau, mereka selalu berhubungan dengan beberapa imam di Singapura. Bahkan mereka merayakan Paskah dan mempermandikan anak-anak mereka di Singapura.

Seorang imam Tionghoa dari Singapura bernama Father Lie bahkan sekali-kali malah datang mengunjungi mereka di Kepulauan Riau. Dari catatan dokumentasi gereja, terekam bahwa pada 22 April 1926 terjadi baptisan atas nama Petrus Tan Khoh Leong. Yang membaptis adalah Fr. Lee. Sampai 14 Oktober 1926, ia masih rutin berkunjung ke wilayah Moro.

Agaknya sosok Father Lie inilah yang memberikan keterangan-keterangan tentang keberadaan orang-orang Katolik Tionghoa di Kepulauan Riau kepada Mgr. Herkenrath. Sehingga pada Maret 1925, Mgr. Herkenrath untuk pertama kalinya berkunjung ke Kepulauan Riau. Pada kunjungan pertama itu Prefek Herkenrath tidak dapat menjumpai banyak umat Katolik di sini, ia hanya dengan beberapa orang saja di Tanjungpinang, dan di Pulau Singkep.

Tahun berikutnya, pada April, Oktober, dan November, Mgr. Herkenrath datang berkunjung lagi. Dalam kunjungannya kali ini, Mgr. Herkenrath mencari nelayan-nelayan Katolik di Kepulauan Riau. Ini misi yang belum sempat tertunai pada kunjungan sebelumnya.
Ternyata ada penyebabnya. Dikisahkan bahwa ketika itu penduduk nelayan kurang percaya terhadap sosok Mgr. Herkenrath sebagai imam Katolik mengingat dalam kunjungan perdananya, Mgr. Herkenrath tidak mengenakan jubahnya.

Oleh karena itu, pada kunjungan selanjutnya di Moro, Mgr. Herkenrath mengenakan jubahnya. Alhasil, para nelayan yang semula mengabaikannya kini berduyun-duyun menjemput kedatangannya. Lalu pada 3 Oktober 1926, Mgr. Herkenrath menerimakan Sakramen Permandian di Moro.

Sambutan di Moro ini membuat Mgr. Herkenrath terharu. Karena di sana, ia menemui sedemikian banyak umat Katolik yang bukan berdarah Eropa (Belanda). Oleh karenanya, Mgr. Herkenrath berjanji akan mendirikan sebuah gereja di Moro.

Janji ini kemudian dipenuhi oleh Bruder Gerard. Pada April 1928, dia memulai pembangunan gereja pertama di Moro. Delapan bulan kemudian, atau tepatnya pada 3 Desember 1928, gereja itu sudah selesai dan diresmikan lewat pemberkatan oleh Mgr. Vitus Bouma.

Dan … gereja ini sampai kini masih berdiri megah di Moro.
Kembali ke Tanjungpinang. Di saat yang bersamaan dengan kerja-kerja di Moro, stasi Riau (Tanjungpinang) didirikan. Wilayahnya meliputi kawasan Kepulauan Riau dan pulau Singkep. Adalah Pater Meijer pastor pertama yang dipercaya sebagai Pastor Paroki. Saat itu, ia tinggal di Singapura dan bertugas sebagai pastor bagi orang-orang Katolik Belanda di sana sekaligus sebagai wakil Singapura dari berbagai kongregasi yang bekerja di Hindia Belanda.

Dalam masa-masa penugasan di Singapura itulah Pater Meijer juga sebulan sekali mengunjungi Tanjungpinang. Termasuk dalam safarinya itu membentang jauh ke pulau Karimun, pulau Moro, dan pulau Sambu. Bahkan, ada kalanya ia sampai berkunjung ke Singkep dan Penuba.

Pada 4 Maret 1929, sebuah sekolah sederhana dibuka dan diresmikan oleh Pater Meijer di Moro. Ada 24 siswa di masa pembukaan. Pater Meijer memanfaatkan rumah sewaannya sebagai tempat belajar. Yang lantai dasar sebagai kelas, sementara lantai atas sebagai kapel dan tempat tinggal seorang guru agama. Rumah itu mulai dipakai per 14 Februari 1930.

Lalu pada Juni 1932, Pater Meijer mulai membangun sebuah gedung gereja di Tanjungpinang. Gereja itu lantas diberkati oleh Mgr. Vitus Bouma pada 5 Maret 1933. Gereja inilah yang berdiri sampai dengan saat ini di Jalan Diponegoro: Gereja Hati Santa Perawan Maria Yang Tak Bernoda.

Sementara itu di Tanjungbalai pun juga dibangun gereja pastoran non permanen yang diresmikan oleh Mgr. Bouma pada tanggal 14 November 1933. Ketika itu, sekolah Tanjungbalai sudah menampung 20 siswa.

Sepintas seperti nyaman dan tenang kerja-kerja keagamaan di Moro. Tetapi, wabah malaria melanda Moro pada akhir 1933. Kejadian luar biasa ini membuat hampir semua umat Katolik meninggalkan pulau tempat tinggal mereka. Gereja terpaksa ditutup.
Dibutuhkan waktu dua tahun sampai beberapa keluarga Katolik kembali ke Moro. Tetapi Moro sudah kehilangan artinya semula bagi gereja. Makin lama keadaan Moro makin merosot. Meski begitu, masih ada sesekali kunjungan imam dari Karimun ke Moro untuk menggairahkan kembali situasi peribadatan.

Pada 1935, sebuah stasi dibuka di Tanjungbalai, Karimun. Wilayah stasi ini untuk menjangkau Kepulauan Riau bagian barat. Sedangkan pada 1939, stasi di Tanjungpinang didirikan. Stasi ini fokus ke Kepulauan Riau sisi timur. (BERSAMBUNG)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses