Minggu, Mei 17, 2026
BerandaTanjungpinangGereja Katolik Kristus Raja Tanjungpinang : Seperempat Abad Menemani Umat (Bagian-3)

Gereja Katolik Kristus Raja Tanjungpinang : Seperempat Abad Menemani Umat (Bagian-3)

*)Gereja Kristus Raja Batu Kucing: Terbesar Meski Tak Sesuai Maket

Beritaibukota.com,TANJUNGPINANG – GEREJA KRISTUS RAJA genap berusia seperempat abad tahun 2023. Gereja ini diresmikan pada 23 November 1997 oleh Mgr. Hilarius Moa Nurak dan Bupati Bintan H. Abdul Manan Saiman (ketika itu Tanjungpinang masih tergabung dalam provinsi Riau).

Gerja Kristus Raja masih berdiri kokoh dan megah lengkap dengan sarana penunjang yang masih difungsikan dengan baik. Mulai dari asrama putra, asrama guru, asrama karyawan, SMP dan SMA Katolik, asrama putri, dan biara suster konggregasi SJMJ yang mengelola asrama putri.

Gereja yang berlokasi di Jalan Batu Kucing ini tergolong gereja terbesar pada saat itu dan mungkin sampai hari ini. Tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya model bangunan gereja tidak sesuai dengan maket awal rancangan Pastor Hendrik bersama seorang arsitek berkebangsaan Prancis. Rancang bangun awal gereja itu sampai sekarang masih disimpan di Pastoran Diponegoro.

Kejadian ini bermula dari ketaksanggupan seorang pemborong dari Tanjungbalai Karimun untuk mengikuti rancang bangun awal. Bermacam rupa alasannya. Akhirnya, disepakati untuk diubah menjadi bangunan yang sekarang itu.

Jika melihat maket awal, sebenarnya bangunan gereja itu tidak menyatu dengan aula bertingkat seperti yang terlihat sekarang ini. Desain semacam ini ternyata menimbulkan masalah lain. Aula yang luas dan terletak di lantai dasar membuat gaung ketika dipakai beraktivitas. Suasanya lumayan tidak nyaman jika dipakai untuk acara-acara yang memerlukan banyak dialog.

Tak hanya itu. Peristiwa memilukan pun pernah terjadi pada 26 Desember 2018. Pada pagi Natal kedua itu, atap dan plafon gereja rubuh. Beruntung tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Untuk perbaikan kerusakan ini, pastor dan umat bergandengan tangan. Meski tidak seindah bentuk awalnya, setidaknya, ruangan itu sudah aman untuk kembali dipakai.
“Gereja besar yang terkesan belum selesai dibangun,” demikian banyak komentar yang terdengar.

Pada 2016, Pastor Yustinianus Talaleng diangkat menjadi pastor paroki. Salah satu kerja awalnya adalah perbaikan kondisi gereja. Dibantu oleh umat dan donatur, atap gereja kembali dibenahi, plafon juga kemudian dipasang ulang, instalasi listrik ditingkatkan, hingga berakhir pada pengecatan. Jadilan gereja yang semakin cantik dan nyaman untuk digunakan. (BERSAMBUNG)

 

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses