Senin, Mei 25, 2026
BerandaTanjungpinangGereja Katolik Kristus Raja Tanjungpinang : Seperempat Abad Menemani Umat (Bagian-4)

Gereja Katolik Kristus Raja Tanjungpinang : Seperempat Abad Menemani Umat (Bagian-4)

*)Pastor Henry Yoseph Jourdain: Penggagas Berdirinya Gereja Kristus Raja

Beritaibukota.com,TANJUNGPINANG – NAMA panjangnya Pastor Henry Yoseph Jourdain, MEP. Seorang Prancis yang akrab disapa Pastor Henry.

Ia adalah sosok penting di balik keberadaan Gereja Kristus Raja di Batu Kucing. Pastor Henry adalah penggagas awal sekaligus penyedia dana dan pencari donatur. Dari serangkaian dedikasinya, boleh dikatakan bahwa Gereja Kristus Raja adalah buah tangan dari Pastor Henry Yoseph Jourdain yang lebih dari 30 tahun berkarya di Tanjungpinang.

Adalah Pastor Henry sendiri yang memilih Batu Kucing sebagai lokasi pembangunan gereja. Lokasi ini dinilai cukup strategis dan tidak berjauhan dengan pusat permukiman umat dari berbagai sudut kota. Lahan ini lantas dibelinya menggunakan uang pribadi dan sejumlah sumbangan yang diperolehnya dari luar negeri.

Sebelum membangun Gereja Kristus Raja, Pastor Henry terlebih dahulu membangun Aula Bukit Tabor di komplek tersebut. Pembangunan ini juga disejalankan dengan pembangunan tiga rumah. Pastor Henry membangun tiga rumah ini beralasan ingin tinggal di salah satu rumah itu ketika pensiun nanti. Namun kenyataan berkata lain. Suatu keadaan membuat Pastor Henry pulang ke Perancis dan tinggal di sana hingga akhir hidupnya. (Sumber F.X. Herri / DPHBP HSMTB)

Pastor Henry dilahirkan di Quentin, Prancis, pada 4 Mei 1928. Ia anak kelima dari tujuh bersaudara dan sudah masuk seminari sejak usia 18 tahun. Pastor Henry memilih masuk menjadi Imam Missions Etrangeres de Paris (Serikat Misi Imam Praja dari Paris) disingkat MEP. Ditahbiskan 1 Juni  1952 dan bertugas pertama di Birma (Myanmar) pada 1953. Di Birma, Pastor Henry melayani 50 stasi yang semuanya berada di wilayah pegunungan.

Pelayanannya di Birma terpaksa disudahi jelang 1960, ketika kondisi politik di sana bergejolak. Semua Imam Katolik diusir keluar dari Birma. Enam tahun kemudian, pada 1966, Pastor Henry kembali ke Prancis. Sebuah kepulangan yang tak mudah lantaran ia merasa meninggalkan umatnya yang tengah menghadapi masa-masa sulit.

Perasaan itu pula yang kemudian membawa Pastor Henry kembali keluar dari Prancis. Pada 1967, ia kembali menemui dan melayani umat Katolik di kawasan Asia Tenggara. Bukan lagi di Birma, melainkan di Vietnam. Karena negara ini juga tidak kalah bergolak, Pastor Henry juga sempat tinggal bersama pengungsi.

Tekad pelayanan sepertinya kadung melebur ke darah Pastor Henry. Dengan sumbangan uang yang diberikan keluarganya, Pastor Henry membeli 80 traktor yang dipakai untuk membangun jalan, bendungan, area persawahan, dan ladang untuk para pengungsi. Tidak berhenti di situ, Pastor Henry juga membuat pipa air sepanjang dua kilometer untuk mengairi persawahan. Konon, akibat kerja keras fisik yang dilakukannya bersama para pengungsi di Vietnam sampai membuat lututnya cedera dan menyulitkannya untuk berlutut.

Pengusiran kembali dialami Pastor Henry. Pada 1974, Vietnam jatuh ke tangan komunis. Banyak warga Katolik yang menyelematkan diri keluar dari Vietnam. Beberapa di antaranya menyeberang sampai jauh ke pulau Galang, Batam, dan menjadi cikal umat Katolik di sana.

Adapun Pastor Henry kembali lagi ke rumah induk MEP di Prancis.

Pastor Henry bersama teman-temannya ketika berada di Kepulauan Riau
Pastor Henry bersama teman-temannya ketika berada di Kepulauan Riau

Pada tahun 1997, Pastor Henry bersama mantan Uskup Agung Kamboja, Mgr. Ives Ramousse tiba di Tanjungpinang. Untuk memudahkan kerja-kerja pelayanannya, Pastor Henry kemudian menyempatkan diri belajar bahasa dan budaya Indonesia di Bangun pada Mei 1978.

Kontur tanah Tanjungpinang pada masa itu amat berbeda dengan sekarang; masih berbukit-bukit. Tidak banyak jalan yang telah dilapisi aspal. Pastor Henry menunaikan pelayanan tidak cuma di area kota Tanjungpinang, tapi juga hingga ke wilayah Bintan dan pulau-pulau kecil sekitarnya.

Apa yang terkenal dari Pastor Henry di mata umat kala itu? Motor GL Max-nya!

Motor itulah yang selalu dipakainya ke mana-mana dalam menemui umat. Tak sekali dua ia bahkan perlu bermalam karena jarak jauh yang harus ditempuh, seperti di Kawal, Telukdalam, Berakit, hingga Tanjunguban. Sementara misi pelayanan di pulau-pulau bahkan sampai membawanya ke pulau Tujuh, Ranai, Tarempa, dan Air Sena.

Sebenarnya, Pastor Henry berasal dari keluarga kaya. Akan tetapi, ia memilih menerima panggilan hidupnya sebagai imam dan cara hidup yang lebih sederhana.

Perihal kesederhanaan Pastor Henry, banyak ceritanya. Di antaranya, Pastor Henry lebih memilih membeli tembakau ketimbang rokok jadi. Urusan pakaian pun Pastor Henry tidak pilih-pilih. Baginya, mengenakan pakaian yang itu-itu saja dan bahkan kekecilan pun bukan masalah. Bahkan, saking sederhananya dan menolak hidup berlebihan, di ruang tidur di pastorannya tidak tersedia tilam, sprei, dan kelambu.

Sebagaimana pengabdiannya di Vietnam, dana miliknya pun dipakai untuk keperluan umat. Ia membangun sekolah di Air Sena sebelum kemudian dihibahkan kepada pemerintah. Pastor Henry juga membangun kapel di Air Sena, Mengkait, dan Tarempa. Sementara di Pulau Manik, Pongo, Tanjung Gantung, dan pulau-pulau kecil lain, Pastor Henry juga meninggalkan “karyanya” di sana berupa sekolah kecil dan kapel sederhana.

Pembangunan Aula Bukit Tabor, asrama putra Tarsisius, Gereja Kristus Raja, dan Gereja Katolik di jalan Lobam juga tidak lepas dari sentuhan Pastor Henry yang bergerilya mencarikan dana pembangunan. Bahkan, ia juga tak segan-segan membelikan mobil dan motor untuk operasional pastoran. Sementara jumlah umat yang dibantunya berobat di dalam dan luar negeri sudah tak terkira jumlahnya. (BERSAMBUNG)

 

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses