Jumat, Mei 8, 2026
BerandaTanjungpinangGereja Katolik Kristus Raja Tanjungpinang : Seperempat Abad Menemani Umat (Bagian-5)

Gereja Katolik Kristus Raja Tanjungpinang : Seperempat Abad Menemani Umat (Bagian-5)

*)Gereja Kristus Raja Pusat Dari Gereja HSMTB: Sempat Pesimistis Sekarang Malah Kurang

Beritaibukota.com,TANJUNGPINANG – GEREJA KRISTUS RAJA ini disebut sebagai gereja pusat dari Paroki HSMTB. Disebut demikian karena gereja ini menggantikan Gereja HSMTB di Jalan Diponegoro yang tidak bisa lagi menampung jumlah umat Katolik yang berdomisili di Tanjungpinang.

Gereja Kristus Raja, sebagaimana yang sudah dikisahkan, mulai dibangun pada 1996 dan diresmikan pada 23 November 1997. Di masa awal gereja, Pastor Markus Tukimin menjabat sebagai Pastor Paroki bersama Pastor Henry Yoseph Jourdain, Pastor Pieter Padiservus, dan Pastor Agus Tarnanu.

Sejak awal, Gereja Kristus Raja memang dirancang menjadi rumah ibadah yang mampu menampung jemaah dalam jumlah besar. Ide ini sempat dicibir dan disambut dengan pesimistis. Ketika itu, jumlah umat Katolik masih lagi sedikit dan dirasa belumlah perlu memiliki gereja dengan kapasitas daya tampung yang besar. Belum lagi ditambah faktor lain: jarak dari paroki yang, pada saat itu, dianggap jauh.

Namun, jika ditinjau dalam perspektif hari ini, Pastor Henry Yoseph Jourdain terbukti adalah seorang visioner. Ia melihat lebih jauh dari kebanyakan orang lain. Sekarang, daya tampung Gereja Kristus Raja malah dirasa kurang. Umat Katolik di Tanjungpinang terus bertumbuh. Kini, untuk mengakali keterbatasan daya tampung itu, Misa Minggu sampai perlu dilakukan dua kali.

Sebenarnya, sebelum Gereja Kristus Raja dibangun, pernah ada kapela kecil di kawasan Batu Enam. Sebuah kapela yang dipakai oleh umat sekitar untuk menunaikan ibadah atau ekaristi. Sayang, bangunan itu sudah tidak bisa disaksikan kembali. Pada 2000-an, atau tiga tahun setelah Gereja Kristus Raja berdiri, tanah dan bangunan kapela ini dijual. Dana hasil penjualannya lantas dipakai untuk menyelesaikan pembangunan Gereja St. Don Bosco di Tanjunguban.

Tidak cuma kapela yang menjadi tempat beribadah umat. Sebelum Gereja Kristus Raja selesai dibangun, Aula Bukit Tabor juga sempat digunakan sebagai tempat perayaan Misa atau Ekaristi Hari Besar atau hari Minggu.

Sebenarnya, aula ini dibangun untuk menampung anak-anak asrama yang berasal dari pulau, yang saat itu jumlahnya terus bertambah. Itu mengapa di bawah panggung, di rubanah, ada kamar-kamar yang dulu pernah dipakai sebagai ruang tidur anak asrama. Tak soal betapa kecil kamar itu. Kini, beberapa anak yang pernah tinggal di sana sudah sukses dan merasakan buah manis dari perjuangan bersempit-sempit tinggal di asrama di Aula Bukit Tabor.

Begitulah kisah yang didapat Romo Agustinus Dwi Pramodo, Pastor Paroki dari 2018—sekarang, dari umat dan beberapa pastor yang pernah bertugas. (BERSAMBUNG)

 

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses