Beritaibukota.com,TANJUNGPINANG – Janji pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Rahma-Rizha, untuk menaikkan insentif RT/RW menjadi Rp 1 juta per bulan menuai kritik tajam.
Usulan yang disampaikan Rahma usai debat publik kedua pada 18 November 2024 itu dianggap sebagai langkah pencitraan politik menjelang Pilkada, mengingat kondisi keuangan daerah yang sedang defisit.
Ketua ICTI-Ngo (Investigation Corruption Transparent Independent) Kepri, Kuncus Simatupang, menilai janji tersebut tidak realistis.
“Dari mana anggarannya? Tanjungpinang sudah mengalami defisit bertahun-tahun, bahkan harus memangkas sejumlah program prioritas,” ujar Kuncus, Sabtu (23/11/2024).
Menurutnya, dengan total 839 RT/RW di Tanjungpinang, diperlukan lebih dari Rp 10 miliar per tahun untuk merealisasikan insentif tersebut. Beban ini akan semakin berat mengingat APBD 2025 sudah harus mengalokasikan Rp 16 miliar untuk mendukung program makanan bergizi nasional.
Kuncus juga mengkritik kebijakan efisiensi Pemko yang memangkas TPP (Tambahan Penghasilan Pegawai) hingga 30 persen mulai 2025.
“Pemko harus fokus pada program yang logis, bukan janji manis yang sulit direalisasikan,” tegasnya.
*)Soroti Kinerja dan Program Tertunda
Kuncus menilai, sebagai mantan wali kota, Rahma seharusnya menawarkan program pembangunan yang lebih komprehensif. Ia juga mengungkapkan bahwa banyak program strategis dalam RPJMD 2018-2023 yang belum terealisasi, seperti pembangunan gedung pemuda, sarana kesehatan, dan 10 kantor lurah untuk meningkatkan pelayanan publik.
“Selama memimpin, Rahma justru mengurangi anggaran seragam sekolah gratis yang merupakan program unggulan almarhum Syahrul. Padahal, anggaran Rp 6 miliar ini berdampak besar bagi masyarakat,” tambahnya.
Ia juga menyoroti perlakuan diskriminatif terhadap PPPK guru dan tenaga teknis yang TPP-nya dipotong hingga 50 persen. “Ini ironi, karena di saat yang sama, insentif RT/RW justru naik menjadi Rp 600 ribu pada 2023,” kata Kuncus.
Menjelang hari pencoblosan, Kuncus mengingatkan para calon untuk tidak asal mengumbar janji demi menarik simpati. “Pilkada harus menjadi ajang adu gagasan, bukan hanya janji pencitraan yang tidak realistis,” tegasnya.
Kuncus optimistis masyarakat Tanjungpinang semakin cerdas dalam menilai calon pemimpin. “Mereka bisa membedakan mana program yang masuk akal dan mana yang hanya untuk menarik perhatian sementara,” tutupnya.
penulis : beritaibukota.com
editor : redaksi



