Kamis, Mei 7, 2026
BerandaTanjungpinangGereja Katolik Kristus Raja Tanjungpinang : Seperempat Abad Menemani Umat (Bagian-8)

Gereja Katolik Kristus Raja Tanjungpinang : Seperempat Abad Menemani Umat (Bagian-8)

*)Efektivitas Pelayanan Imam Jauh Lebih Maksimal : 25 Tahun Usia Gereja Kristus Raja

Beritaibukota.com,TANJUNGPINANG – PADA usia seperempat abad, Gereja Kristus Raja telah memiliki umat lebih dari 6.700 orang. Sudah ada tujuh Pastor Paroki yang pernah bertugas sejak gereja ini pertama kali melayani. Yakni, Pastor Markus Tukimin (1996-2001), Pastor Philipus Seran (1996-2001), Pastor Philipus Seran (2001-2004), Pastor Laurensius Dihe Sanga (2004-2007), Pastor Marianus Manse (2007-2010), Pastor Vincentius Pioneer (2010-2015), Pastor Yustinianus Ta’Laleng (2015-2018), dan sekarang Pastor Paroki yang bertugas adalah Pastor Agustinus Dwi Pramodo (2018-sekarang).

Pelayanan para Imam, kata Romo Pramodo, kini sudah jauh lebih baik dan efektif. Sebelumnya, Gereja Kristus Raja masih harus melayani gereja-gereja stasi di luar Tanjungpinang, yang ketika itu belum menjadi paroki karena keterbatasan jumlah Imam.

Sebagai contoh, dahulu Imam dari Tanjungpinang masih harus melayani gereja di kawasan Lingga, Ujung Beting, Anambas, dan hingga Natuna. Sekarang tidak lagi. Karena daerah-daerah tersebut sudah menjadi paroki sendiri sehingga mendapatkan pelayanan langsung dari pastor yang bertugas di sana.

Sekarang, di Paroki HSMTB ada lima Imam yang melayani umat. Mereka punya wilayah pelayanan masing-masing. Pelayanan gereja di Tanjungpinang-Teluk Dalam dilayani Romo Pramodo, Romo Moses Masan Belan, dan Romo Antonius Untung Sinaga. Sedangkan untuk wilayah Bintan Utara dilayani Romo Poya. Untuk wilayah Tanjunguban, Sungai Kecil, dan sekitarnya dilayani Romo Agus Tupen.

Dengan demikian, keberadaan lima Imam tersebut telah mencakup semua wilayah Paroki HSMTB. Biar begitu, menimbang pertumbuhan umat Katolik yang makin pesat, ke depannya pelayanan juga akan bertambah dan tidak menutup kemungkinan perlu penambahan Imam lagi agar pelayanan pada umat tetap efektif tanpa mengorbankan satu sama lain.

*)Perkembangan Umat Katolik Di Tanjungpinang : Orang Flores dan Pegawai Negeri Tionghoa

APA tanda pertumbuhan umat Katolik di Tanjungpinang? Ketika tenda-tenda sudah berdiri di luar bangunan gereja saat perayaan Natal dan Paskah.

Keadaan ini yang kemudian membuat Pastor Henry membangun Aula Bukit Tabor. Sedari awal, aula ini ditujukan sebagai gedung serbaguna dan bisa dipakai untuk perayaan Misa di saat kegiatan Natal dan Paskah.

Namun lama kelamaan aula Bukit Tabor juga tidak mampu menampung semua umat Katolik di saat ada perayaan besar. Akhinya Pastor Henry mencari dana ke luar negeri untuk membangun gereja. Pada tahun 1995 panitia pembangunan gereja Kristus Raja sudah dibentuk. Pada tahun 1997 Gereja Kristus Raja sudah diresmikan dan bisa dipergunakan.

Pertumbuhan umat Katolik di Tanjungpinang ketika itu terbilang pesat, setidaknya, karena dua hal. Pertama, adalah kehadiran warga perantau, terutama dari Flores. Mereka umumnya adalah pekerja migran di Malaysia atau sedang mencari lowongan di negeri jiran. Tanjungpinang, yang jaraknya dekat dekat Malaysia, menjadi semacam tempat persinggahan. Baik itu sebelum pulang ke Flores atau sebelum berangkat ke Malaysia.

Dari yang semula sekadar tempat singgah lama-lama menjadi tempat tinggal. Sebagian dari mereka tidak ingin pulang ke Flores. Sebagian yang lain menetap di Tanjungpinang karena tidak ada juga perizinan untuk bekerja di jiran. Karena kebanyakan dari mereka adalah umat Katolik, mau tidak mau mereka turut mengikuti pelayanan di gereja yang ada di Tanjungpinang.

Satu di antara orang Flores yang amat mengenal kehidupan umat Katolik di Tanjungpinang adalah Blasius Callistus Akur. Pria kelahiran Cancar ini sudah tinggal di Tanjungpinang sejak 1987. Ia sebenarnya sudah ada di Kepulauan Riau sejak Februari 1982. Waktu itu, ia ditugaskan di bagian perawatan penanganan pengungsi Vietnam di pulau Galang, Batam.

Biarpun baru tinggal di Tanjungpinang lima tahun kemudian, Blasius sudah cukup akrab dengan lingkungan Gereja HSMTB. Ia mengaku sering menginap di Pastoran HSMTB ketika sedang berada di Tanjungpinang.

“Baru pada 1987, perkembangan umat Katolik di Tanjungpinang makin ramai,” kata Blasius.

Selain dipengaruhi oleh kehadiran perantau dari Flores, pertumbuhan umat Katolik di Tanjungpinang juga tak lepas dari pendatang lain yang terus berdatangan ke sini. Satu golongan yang punya pengaruh signifikan adalah keberadaan pegawai negeri etnis Tionghoa beragama Katolik yang berdinas di Tanjungpinang. Umumnya mereka datang membawa keluarga dan tinggal dalam jangka waktu yang lumayan lama. (BERSAMBUNG)

 

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses