Beritaibukota.com,KESEHATAN – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terus berupaya meningkatkan deteksi dini tuberkulosis (TBC) melalui optimalisasi skrining di daerah padat penduduk. Upaya ini sejalan dengan Program Hasil Cepat Terbaik (PHCT) atau Quick Win penanganan tuberkulosis yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Sekretaris Ditjen Penanggulangan Penyakit, dr. Yudhi Pramono, MARS, menjelaskan bahwa daerah padat penduduk menjadi fokus utama dalam penemuan kasus TBC karena tingginya risiko penyebaran penyakit di lingkungan dengan kepadatan orang yang tinggi dan sirkulasi udara yang buruk. Investigasi kontak juga dilakukan oleh tenaga kesehatan atau kader, dengan minimal delapan orang diperiksa untuk setiap kasus TBC yang ditemukan.
“Kepadatan penduduk berkaitan erat dengan tingginya angka kasus TBC. Semakin padat suatu wilayah, semakin mudah bakteri Mycobacterium tuberculosis menyebar melalui udara,” jelas dr. Yudhi dilansir dari laman kemkes.go.id. Jumat (31/1/2025).
Sebuah studi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta yang dilakukan oleh Triana Srisantyorini dkk. menyatakan bahwa kepadatan penduduk memiliki korelasi signifikan dengan peningkatan kasus TBC di DKI Jakarta pada 2017-2019. Kurangnya sirkulasi udara di daerah padat juga mempercepat penyebaran penyakit.
Untuk meningkatkan akurasi diagnosis, Kemenkes kini mengandalkan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) yang memiliki sensitivitas tinggi dalam mendeteksi DNA Mycobacterium tuberculosis (MTB). Berdasarkan Surat Edaran (SE) Dirjen P2P Nomor HK.02.02/III.1/936/2021, Tes Cepat Molekuler (TCM) ditetapkan sebagai alat diagnostik utama untuk TBC di Indonesia. Hingga saat ini, sekitar 2.430 unit TCM telah tersebar di seluruh provinsi dan kabupaten/kota.
Namun, tantangan masih dihadapi dalam pengambilan spesimen dahak, yang tidak selalu bisa diperoleh dari pasien. Untuk mengatasi hal ini, Indonesia tengah melakukan studi validasi klinis alat diagnostik PCR menggunakan spesimen dari tongue swab (usap lidah). Penelitian ini diperkirakan selesai pada Februari 2025 dan dilakukan oleh Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dengan dukungan dari Bill & Melinda Gates Foundation.
Sebagai bagian dari Quick Win Kesehatan, pemerintah menargetkan eliminasi TBC pada 2030 melalui strategi terintegrasi, termasuk optimalisasi skrining di daerah padat penduduk, penguatan layanan diagnostik dengan teknologi PCR dan TCM, serta investigasi kontak yang lebih agresif. Dengan dukungan tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat, Indonesia semakin optimis dalam menekan angka kejadian TBC.
Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi hotline Halo Kemenkes di 1500-567, SMS 081281562620, atau email kontak@kemkes.go.id.
penulis : beritaibukota.com
editor : redaksi



